Blog Ini Adalah Sarana dan Inspirasi Q

Blog Ini Adalah Sarana dan Inspirasi Q
be my self

Jumat, 29 Januari 2010

Penantian Q


Sungguh Cinta ini menyakitkan bagi q, tanpa hadirnya disisi rasanya sepi sekali. beb, pernahkah engkau merasakan Rindu yang sungguh menguras pikiran dan akal sehat q?



Disaat rindu ini mulai membeku, rasanya membuka hati yang telah terluka sangat menyakitkan. ketahuilah cinta yang q punya adalah cinta yang tulus.silahkan saja, aq mau lihat sampai dimana c qm diemin q begini? toh segalanya akan berakhir menyakitkan seperti ini. qm memanfaatkan q sedemikian rupa.


Entah dimana hatimu, perasaanmu, sejahat itu kah? beribu pertanyaan datang, berjuta perasaan yang tidak menentu. aq tidak peduli entah qm mimikirkan apa!! tapi yang pasti sikap mu begitu menyiksa aq.. semua kata cinta yang keluar dari bibirmu palsu,,,kenapa beb???

Seolah- olah qm tidak mengenal q,,,qm udah g peduli sama perasaan q, aq sungguh sangat mencintaimu, tapi apa balasan darimu....hanya kepalsuan bertopengkan ketulusan. walau begitu q tetap menanti hadirmu di sisi.

harapan Q

aku akan selalu menunggu hadirmu


Engkau begitu berharga, oleh karena itu aku akan selalu mencintaimu setulus hati q...

Rabu, 27 Januari 2010

NGAK SUKA SAMA PASANGAN

Apa yang harus kita lakukan kalo calon pasangan kita adalah orang yang nggak kita sukai ?
  • Pake Kacamata ALLAH

Biasanya qita nggak suka karena kriteria yang Qta inginkan untuk calon Qita terlalu " semau gue ", alias bukan kriterianya ALLAH. masih mending " semau gue " klo nyambung sama Tuhan, kalo bertentangan ? jadinya pusing sendiri ! semua harus diserahkan pada Tuhan lho.

  • ALLAH Bekerja

Sadarilah bahwa Tuhan bisa bekerja di dalam Qamu menurut kerelaannya, klo Qmu telah berserah penuh kepada-Nya ( Fikipi 2:3). Tuhan bisa membuka dan menutup jalan, dan Tuhan akan kasih keyakinan untuk Qmu mengambil keputusan

  • Tak kenal Maka Tak Sayang

Ambillah waktu untuk mengenal dia lebih dalam, dan itu butuh waktu. saling mengerti dan belajar menerima. biasanya qta nggak suka dia karena qta lihat dari apa yang terlihat alias nggak kenal dalam-dalamnya, mungkin karena latar belakang keluarganya yang bikin dia begitu. sering kali qta nggak suka karena malu-malu kucing, karena teman-teman juga nggak suka sama dia, minder, dsb. so, kenalilah dia mulai dari basa-basi, cerita, akhirnya kalian bisa jadi sahabat dulu. bersahabatlah secara umum dan netral biar nggak kikuk, sambil tentunya melihat perkembangan dan pimpinan Tuhan. curhat deh sama Tuhan. lihat juga apakah melalui ujian waktu ini qmu tambah sebel, atau tambah suka sama dia, karena Tuhan bisa mengalirkan hati orang kepada siapa Dia inginkan. ( amsal 21:1)

Penyakit akhir zaman dan Akibatnya

Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu ! demikianlah kamu memenuhi Hukum kristus
Galatia 6 : 2
Penyakit akhir Zaman
  • cinta diri sendiri
  • jadi hamba uang
  • sombong
  • pemfitnah
  • berontak sama ortu
  • nggak tau berterimakasih
  • nggak peduli Agama
  • nggak tau mengasihi
  • nggak mau berdamai
  • nggak bisa mengekang diri
  • garang
  • nggak suka yang baik
  • suka menghianat
  • nggak berfikir panjang
  • nurut kepada hawa nafsu
  • berlagak tau

AKIBATNYA

  • egois
  • KKN,pelit, ngagak peduli sesama, suka menipu
  • sewenang-wenang, rasis alias membeda-bedakan manusia berdasarkan sara
  • tukang adu domba
  • seks bebas, aborsi , narkoba
  • nggak menghargai alam dan orang lain
  • bermoral bejat
  • jaha dan nggak mau mengampuni
  • provokator
  • tukang gosip bikin kacau
  • tukang berkelahi
  • tukang pukul, pembunuh , teroris
  • licik, berakal bulus, berlidah dua
  • tukang protes, complainer
  • berzinah, bercerai, pembuatan amoral, pemerkosa
  • tukang nyolot.

SUGES

SUGES
di saat suges mulai menggoda
pikiran mulai mengada - ada
Langsung kutolak, suges reda
Harus kuisi waktu yang jeda
Aku ingin bisa berhenti
keluargaku wanti - wanti
titipkan saja aku pada panti
sebab aku belum mau mati
Menyerah aku tak bakal
ingin berhenti jadi nakal
kubaca amsal berpasal-pasal
sampai Hatiku menyesal
Ku yakin masih ada harapan
kuraih lagi masa depan
aku butuh dukunganmu, Teman
aku juga butuh Engkau Tuhan...

JANGAN MEMANDANG SESUATU DARI KULIT LUAR SAJA

MEMBUKA PEMIKIRAN
Pendidikan adalah busur dan anak panahnya adalah wawasan. Ketika keduanya seimbang maka sekali bidik , sasaran tepat didapat.

Curiosity ( rasa ingin tahu ) merupakan salah satu sifat manusia yang mendasari kemampuannya untuk belajar. Sebagai follow up dari pengembangan kemampuan belajar adalah melalui pelatihan-pelatihan. Keterampilan hidup dilatihkan secara formal melalui proses pendidikan sekolah, kurikulum ataupun clup-clup tertentu. Sedangkan skill life yang terjadi tanpa disadari , mengalir begitu saj tanpa rentangan keseharian hidup manusia di dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sekitar. Pelatihan melalui pendidikan formal ataupun non formal dalam keluarga misalnya: memang diharapkan setiap insane memperoleh wawasan dari pendidikannya. Wawasan merupakan segala sesuatu yang mampu di serap oleh panca indera. Selain itu wawasan adalah deretan data acak diotak yang harus diolah. Setelah melalui proses berfikir saling menghubungkan, dan berbagai pertimbangan maka otak manusia mengalami pertimbangan ratio.Dari perkembangan ratio inilah muncul gagasan dan pemikiran kritis lalu mulailah pencarian informasiberkaitan dengan pemikiran barunya. Disinilah proses daya cipta dan kreativitas berjalan dan mengalir terus.

Dalam tahap perwujudan daya cipta berbagai masalah tantangan mulai bermunculan. Maka menjadi amat penting memberikan putusan-putusan tertentu dari setiap masalah. Tanpa ada pembatasan, daya cipta tidak lagi konsisten.

“Hidup di Indonesia sangat berbeda dibandingkan di Amerika Serikat , meskipun dari sumberdaya alam kita tak kalah. Kalau di sana jadi pencipta lagu saja sudah cukup untuk hidup.royalty mengalir terus. Di Indonesia? Boro-boro royalty. Lagu-lagu kami di bajak dan hasil bajakannya dijual bebas.karena itu berkesimpulan bahwa untuk bias hidup di Indonesia harus punya banyak kebiasaan.”kata jebolan Fakultas seni rupa IKJ.(kompas, 15 juni 2006)

Meskipun namanya sekolah alternative yang jelas-jelas berbeda dari kurikulum sekolah umum, tetapi ide dasar Dik Doank rupanya ingin mendongkrak barbagai potensi peserta didikannya. Batasan-batasan disana pasti ada meskipun memiliki kebebasan, dan iklim demokratis lebih terasa dibandingkan sekolah umum. Batasan-batasan tersebut di muat bukan untuk mengunci ke bebasan anak-anak tatapi justru menjaga karakterdan konsistensi sekolah yang di kelolanya. Tanpa pembatasan pendidikan menjadi tanpa arah.

Sebenarnya dalam pendidikan yng melembaga diharapkan bisa mengubah kepribadian seseorang kearah yang lebih maju bahkan sebagai agent of change menuju kepada tatanan hidup yang lebih baik.

Dalam beberapa kasus, banyak orang yang dianugrahi intelegensi ( IQ ) tinggi., namun menemui ke gagalan hidup. Masih beruntuk kalau bias bangkit lagi, namun kalau terus terpuruk dalam keputus asaan maka sia-sialah IQ tingginya.mungkin orang tersebut di sekolah selalu menjadi siswa yang school smart ( pandai ) akademisnya, tetapi kurang dari street smart ( pintar secara akal sehat ). Gelar akademisnya disandangnya, selalu the bes dalam nilai. Ketika terjun di sekolah kehidupan yang sesungguhnya dia tidak bias menerima kegagalan ia tidak pernah di berikan wawasan menerima kegagalan, yang ia terima hanyalah tuntutan kan keberhasilan, sukses dan menang. Orang tua sebagai kaum dewasa tak pernah mengenalkan arti gagal dan kalah. Akibatnya seorang anak kurang bisa menanggung beban ke gagalan dan kesalahan. Kemampuan beradaptasi terhadap kegagalan belum terasa. Di sinilah pentingnya wawasan entah dari pengalamannya sendiri, pengalaman orang lain , pengertian dan keyakinan yang di tanamkan oleh orang tua , bacaan, ceramah, dll. Kaum muda perlu memahami bahwa kegagalan dan kekalahanharus di alami sebelum mencapai keberhasilan.wawasan-wawasan dan keberhasilan itu di olah sebagai bagian dari hidupnya.

Wawasan menjadi amat penting bagi kaum muda untuk mengembangkan ratio/ kemampuan berfikir kritis, wawasan yang di berikan melalui lembaga pendidikan menjadi sangat penting. Ketika mempu mengkritisi masalah hidupnya, seseorang akan mampu mengembangkan di rinya dalam hal penyesuaian diri terhadap masalah, pengendalian diri dan ketahan \an diri menanggung masalah. Banyak orang mampu menanggung masa-masa sulit dalam hidupnya kemudian menemukan sebuah energi baru untuk mengembangkan dirinya.

Menggali wawasan tidak terbatas di dalam ruang kelas.di rumah, di jalan di tempat seminar, acara pesta, dan orang lain adalah sumber inspirasi. Maka setiap manusia adalah sumber wawasan ataupun sumber data ke hidupan bagi diri sendiri dan orang lain. Pendidikan yang baik idealnya memberikan berbagai wawasan hidup. Wawasan akademis, wawasan pengalaman, wawasan sosial melalui metode interaksi kelompok dan wawasan spritual yang memampukan manusia untuk menemukan kejernihan pikiran.

Pendidikan dan wawasan spritual tidak terbatas hanya pada pemberian dogma-dogma agama tetapi lebih kepada kemampuan merefleksikan pengalamannya untuk menemukan jiwa yang bebas tanpa tekanan pihak lain ataupun terbelenggu oleh aturan militan negatif yang menjermuskan jiwanya sendiri. Dengan kata lain pendidikan dan wawasan spritual menjadi kunci akhir untuk membuka pintu kesadaran manusia tentang bagaimana harus hidup secara benar dan bermakna.

Pendidikan yang benar adalah yang membebaskan orang lain dari berbagai tekanan. Bukan membelenggu dan melumpuhkan kesadaran seseorang. Pendidikan yang benar bukan Aku sebagai pusatnya.Semua orang bisa memikirkan sang Aku, semua hal harus terpusat pada sang Aku, bukan itu yang diharapkan. Namun sang Aku harus bisa keluar dari lingkaran masalahnya sendiri guna menemukan kebebasan jiwanya agar sang jiwa mampu hinggap ke jiwa-jiwa yang lain untuk menjadi saluran berkat bagi banyak jiwa. Itulah hakekat pendidikan.

Pemikiran Pria Dan Wanita
Membaca nama depan seseorang pikiran kita langsung tertuju pada perbedaan Gender. Jenis kelamin di definisikan sebagai istlah biologis berdasarkan perbedaan anatomi dan penampilan fisik. Gender merujuk kepada sesuatu yang berhubungan dengan jenis kelamin individu, termasuuk peran, tingkah laku, kecenderungan maskulinitas atau feminitas serta attribut lain sesuai dengan budaya setempat. Dengan demikian ada ada perbedaan besar cara pandang kita memperlakukan mereka.

Usia 2 tahun seorang anak mulai menyadari kalau dirinya sama dengan ayah atau ibunya. Seiring dengan perkembangan usianya , seorang anak semakin mempekuat gendernya melalui mainan yang di sukainya, atau film kartun yang dilihatnya. Usia 7 tahun, menampakkan minat dan karakter tertentu melalui berbagai cara, misalnya film kartun yang dilihatnya, perilaku dan keinginannya. Anak perempuan misalnya, akan lebih menyukai film kartun Dora in the explorer, Barbie, dan karakter perempuan lainnya. Sedangkan anak laki-laki lebih menyukai film kartun Cannon sang detektif, Harry potter dan karakter laki-laki lain.

Usia remaja menjadi moment penting pertumbuhan pribadi dan karakter Gendernya. Seorang anak harus memiliki ruang expresi dirinya. Kebutuhan expresi diri membutuhkan pengakuan dari orang lain, maka menjadi kebutuhan yang mendesak bagi kaum remaj turut berproses kedalam kelompok sebayanya.masuk kedalam sebaya memang menjadi ajang untuk memperkuat karakter Gendernya, semakin mengasah minatnya semakin menyadari sepenuhnya peran dan bidang yang di pilihnya.

Peran Gender semakin tampak ketika kaum muda akan memilih bidang yang diminatinya, mungkin jenis olahraga, hobby serta pada fakultas yang dipilihnya. Maka bidang yang sifatnya feminin seperti pendidikan, kebidanan, kecantikan menjadi bidang yang lebih banyak di pilih wanita. Bidang yang di kaitkan dengan aspek maskulinitas seperti sains dan teknologi, penelitian, explorasi, dan petalangan menjadi pilihan lebih banyak laki-laki. Pekerjaan maskulin dikaitkan dengan pekerjaan yang aktif, cepat, tangguh,dingin dan kompetitif. Sedangkan pekerjaan feminin biasanya dikaitkan dengan realitanya, masyarakat umumnya menyikapi seorang pekerja wanita tidaklah sama di bandingkan bagaimana mereka menyikapi seorang pekerja laki-laki.

Banyak orang tua yang memang memperlakukan anak perempuannya berbeda dengan anak laki-lakinya. Anak perempuan lebih merindukan belaian lembut, sapaan halus orang tuanya. Anak laki-laki lebih suka kalau orang orang tuanya memberi kepercayaan kepadanya. Tak bisa di pungkiri anak perempuan lebih memiliki kekayaan perasaan di bandingkan laki-laki, mereka lebih banyak mengalami ataupun memperoleh perasaan empati. Umumnya perempuan mengakui secara sepenuhnya bahwa mereka memiliki posisi di bawah laki-laki. Entah gaji, karier,pekerjaan, kecekatan dan kecepatan bertindaknya meskipun jika diadakan tes kecerdasan mereka memiliki skor yang signifikan dengan laki-laki. Anak-anak memandang bahwa ayah lebih pandai dari ibu, kakek lebih pandai dari nenek, kakak laki-laki lebih pandai dari kakak perempuan. Laki-laki memiliki standar dan harapan yang lebih tinggi terhadap kesuksesan pekerjaan yang lebih banyak menekankan pada besarnya penghasilan di banding dengan perempuan.

Meskipun semakin banyak wanita yang memasuki bidang pekerjaan sains dan teknologi tetapi dalam perjalanan proses kariernya, laki-laki lebih berhasil mewujudkan harapannya di bidang pekerjaan. Sebab dalam kenyataan perempuan berharap memiliki waktu lebih diluar pekerjaan, misalnya menghabiskan waktu bersama anak-anak dan membenahi rumah. Hal ini cenderung menurunkanh\ harapan mereka akan peningkatan karier yang lebih tinggi.

Ada sejarah panjang mengapa pria diasumsikan lebih superior di bandingkan wanita.tetapi menjadi berbahaya ketika lingkungan memberi tekanan amat kuat pada peran karakter maskulin terhadap anak laki-laki ataupun peran feminin yang amat kuat pada anak perempuannya. penekanan yang amat kuat pada peran karakter tersebut akan memunculkan hiperimaskulinitas dengan gejala berbagai aggresi dan kekerasan fisik ataupun mental, misalnya memukul anak, menyakiti, menganiaya sampai kepada hukuman fisik. Penekanan sangat kuat pada karakter feminitas akan memunculkan hiperfeminniity. Untuk menutupi rasa ketidak berdayaan terhadap kaum laki-laki, wanita ada yang beranggapan panggunaan daya tarik fisik dan hubungan sexual menjadi cara untuk menaklukkan laki-laki. Di sinilah bahaya hiperfemininiti.

Pria yang extrim maskulin bertingkah laku kasar dan agresif di bandingkan dengan pria yang moderat. Begitupun wanita yang secara ekstrim feminin merasa tidak berdaya di hadapan banyak orang , sehingga menggunakan kelebihan fisiknya menarik tperhatian laki-laki. Peran gender inipun sering di perkuat dengan dongeng di kala sebelum tidur.

Memang kebanggaan keluarganya jika seorang wanita mampu berbagi rasa dengan anak-anak dan pasangannya. Mereka memperjuangkan aspek kemurahan hati. Kerjasama dari pada kompetisi dan ke egoisan. Wanita merasa bertanggung jawab secara emos terhadap keluarganya. Laki-laki merasa bertanggung jawab secara finansial terhadap kelangsungan keluarganya.

Tetapi menjadi suatu pemborosan kalau wanita memiliki ke khawatiran yang berlebihan terhadap penampilannya. Semua daya entah itu uang, tenaga dan waktu seolah-olah terfokus pada perbaikan penampilannya . sebabkerangka berfikir wanita “ memiliki penampilan biasa-biasa saja berarti tidak cukup memuaskan. Sedangkan laki-laki menganggap penampilan biasa-biasa saja berarti cukup menarik bagi wanita .” sejak saat remaja, wanita memiliki kepedulian lebih besar terhadap citra diri di bandingkan dengan pria. Sebenarnya hanya dengan penampilan tidaklah cukup memberikan informasi tentang siapa dia sebenarnya. Sering apa yang di pikirkan wanita terhadap penampilannya, itu tidak menjadi pemikiran ataupun perhatian pria secara detail. Secara keseluruhan kecantikan hanyalah sebatas kulit luar. Ketika seseorang nampak menyenangkan penampilannya, hal itu bukan petunjuk yang lebih baik bahwa orang tersebut benar-benar menyenangkan.

Selasa, 26 Januari 2010

Belajar menjadi seorang PEMIMPIN

KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut kodrat bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Faktor yang paling penting dalam kegiatan adminitrasi Menajemen pendidikan adalah kepemimpinan (leadership). Sebab kepemimpinanlah yang menentukan arah tujuan. Memberikan bimbingan dan menciptakan iklim kerja yang mendukkung proses pelaksanaan administrasi.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa manusia telah dikaruniai sifat dan sekaligus tugas sebagai seorang pemimpin. Pada masa sekarang ini setiap individu sadar akan pentingnya ilmu sebagai petunjuk/alat/panduan untuk memimpin umat manusia yang semakin besar jumlahnya serta komplek persoalannya. Atas dasar kesadaran itulah dan relevan dengan upaya proses pembelajaran yang mewajibkan kepada setiap umat manusia untuk mencari ilmu. Dengan demikian upaya tersebut tidak lepas dengan pendidikan, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal tanpa adanya manajemen atau pengelolaan pendidikan yang baik, yang selanjutnya dalam kegiatan manajemen pendidikan diperlukan adanya pemimpin yang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin.

B. Pembatasan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, penulis membatasi masalahnya sebagai berikut :
a. Hakikat pemimpin
b. Tipe-tipe kepemimpinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan.dalam manajemen pendidikan.
C. Tujuan Penulisan Makalah

Sesuai dengan permasalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini diarahkan untuk :
a. Untuk mengetahui hakikat pemimpin
b. Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
D. Sistematika Penulisan

Sebagai langkah akhir dalam penulisan makalah ini, maka klasifikasi sistematikan penulisannya sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Dibahas tentang tinjauan hakikat pemimpin, tipe-tipe kepemimpinan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.
Bab III : Merupakan bab terakhir dalam penulisan makalah ini yang berisikan tentang kesimpulan.

BAB II
KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

A. Hakikat Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah seni membuat orang lain melakukan apa yang Anda inginkan karena orang tersebut menginginkannya.- Dwight Eisenhower
Inventori bisa dikelola (manage), tetapi manusia harus dipimpin.- H. Ross Perot
Bila tindakan Anda menginspirasikan orang lain untuk bermimpi lebih besar, belajar lebih banyak, melakukan lebih banyak dan menjadi lebih baik, maka Anda adalah seorang pemimpin.- John Quincy Adams

Banyak sekali sumber-sumber dimana Anda bisa banyak belajar tentang kepemimpinan. Definisinyapun bermacam-macam dan tidak ada yang salah, tapi akhirnya saya bisa merangkumnya sedikit ala saya, dengan bantuan wikipedia.

Menurut wikipedia, kepemimpinan adalah:
1. Proses dari memimpin

· Yang menurut saya, artinya adalah Anda harus memiliki pengikut untuk dipimpin, mau itu orang lain ataupun diri Anda sendiri. Artinya pengikut disini bukan karena paksaan, tetapi mengikuti dengan kerelaan dan senang hati. Karena jika orang tersebut mengikuti Anda secara terpaksa, sebenarnya ia bukan ’pengikut’ Anda bukan? Contohnya, bila Anda seorang pengikut agama Islam, apakah Anda melakukannya dengan sukarela atau paksaan? Faktanya, orang lain akan dengan mudah mengikuti anda jika Anda sudah menjadi pengikut diri Anda sendiri yang paling setia. Apa artinya? Artinya Anda sudah harus mengetahui dengan jelas, hal-hal apa yang Anda ingin orang lain ikuti.

· Karena ini adalah sebuah proses, artinya ada sebuah perjalanan yang Anda lakukan yang diikuti oleh orang-orang tersebut. Dan dalam semua perjalanan ada awal, ada tujuan, ada peta, itinerary, kendaraan dan berbagai tantangan. Ini semua harus jelas sehingga orang lain pun mudah mengikutinya ataupun mengantisipasinya. Apa perjalanan Anda?

2. Kemampuan untuk mempengaruhi perilaku manusia untuk mencapai suatu misi yang ditetapkan oleh pemimpinnya
Ada beberapa kata penting untuk disimak di sini:
· Kemampuan
Artinya walaupun banyak orang yang sepertinya sudah terlahir dengan bakat memimpin, ini adalah suatu kemampuan yang bisa dibentuk dan dipelajari. Jadi, jangan pernah berkata bahwa Anda tidak memiliki bakat untuk memimpin, mungkin sebenarnya Anda yang belum memiliki keberanian ataupun ketrampilan untuk memimpin, itu saja.

· Mempengaruhi perilaku manusia
Perhatikan bahwa didalam definisi ini tidak dibedakan bagaimana caranya, baik itu menggunakan cara-cara yang terpuji ataupun cara-cara yang tidak berperikemanusiaan. Intinya, sebagai pemimpin Anda harus memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku manusia, mau itu terpaksa, dipaksa ataupun atas kemauan diri sendiri. Walaupun, jika Anda memilih untuk menjadi pemimpin yang baik, Anda pasti sudah tahu apa yang harus Anda lakukan.

Dan jangan menyangka bahwa ”mempengaruhi perilaku manusia” itu mudah. Anda memerlukan serangkaian ketrampilan yang lain dari cara berkomunikasi, membangun hubungan dengan orang lain sampai cara untuk menginspirasikan dan memotivasi orang lain untuk merubah perilaku mereka, karena semua hal dimulai dari sikap dan perilaku bukan?

Intinya, Anda harus mampu untuk membuat orang lain antusias untuk melakukan perjalanan yang telah Anda tetapkan. Tantagannya, semakin banyak pengikut Anda, Anda harus semakin terampil karena Anda tidak boleh melupakan siapapun juga. Mulailah dari diri Anda sendiri, mampukah Anda mempengaruhi dan mengubah perilaku diri Anda sendiri?

· Mencapai suatu misi
Kembali lagi, Anda butuh suatu misi, suatu perjalanan yang memiliki tujuan yang jelas yang ditetapkan oleh Anda. Tujuan ini tidak ditetapkan oleh suara terbanyak, bukan karena ketidak enakan, tetapi karena ketegasan dan visi Anda sebagai pemimpin.

Jadi, sekarang tanyakan ke diri Anda sendiri, apakah Anda sudah memiliki hal-hal tersebut?
· Apa Visi & Misi Anda dalam hal yang Anda pimpin saat ini?
· Apakah Anda sudah memiliki Peta Perjalanan?
· Siapa saja pengikut Anda? Apakah mereka hanya karyawan, atau sudah menjadi pengikut Anda yang setia? Sudahkah Anda menjadi pengikut diri Anda yang paling setia? Sudahkah pengikut Anda memahami visi, misi dan peta perjalanan Anda dengan seksama? Bagaimana itinerarinya? Apa kendaraannya?
· Apakah Anda sudah menguasai ketrampilan untuk mempengaruhi perilaku manusia? Mampukah Anda mengubah perilaku diri Anda sendiri?
o Ketrampilan berkomunikasi yang efektif dan memotivasi orang lain
o Ketrampilan membangun hubungan dengan orang lain
o Ketrampilan membina dan mendukung orang la

“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”

Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama diantara pemmpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling erinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal

B. Tipe-Tipe Kepemimpinan
Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :

1. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.
2. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.
3. Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
4. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.
5. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.
6. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.

Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.
2. Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.
3. Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.
Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Manajemen Pendidikan
Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutif Nanang Fattah, sebagai berikut :
1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.
2. Harapan dan perilaku atasan.
3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.
4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
6. Harapan dan perilaku rekan- rekan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi. Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :

1. Sebagai pelaksana (executive)
2. Sebagai perencana (planner)
3. Sebagai seorangahli (expert)
4. Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)
5. Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)
6. Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)
7. Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)
8. Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)
9. Merupakan lambing dari pada kelompok (symbol of the group)
10. Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)
11. Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)
12. Bertindak sebagai seorang aya (father figure)
13. Sebagai kambing hitam (scape goat).

Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :

1. Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.
2. Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.
3. Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.

Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.

Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebasan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.

Tipe-tipe kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat.Disamping tipe-tipe kepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire.Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam melaksanakan aktivitasnya.

Tugas pemimpin dalam kepemimpinannya meliputi ; menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok, dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai, meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.Pemimpin yang professional adalah pemimpin yang memahami akan tugas dan kewajibannya, serta dapat menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

B. Saran-saran
Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka penulis mengemukakan saran-saran sebagai berikut :
1. Hendaknya para pemimpin, khususnya pemimpin dalam bidang pendidikan dalam melaksanakan aktivitasnya kepemimpinannya dalam mempengaruhi para bawahannya berdasarkan pada kriteria-kriteria kepemimpinan yang baik.
2. Dalam membuat suatu rencana atau manajemen pendidikan hendaknya para pemimpin memahami keadaan atau kemampuan yang dimiliki oleh para bawahannya, dan dalam pembagian pemberian tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
3. Pemimpin hendaknya memahami betul akan tugasnya sebagai seorang pemimpin.
4. Dalam melaksanakan akvititasnya baik pemimpin ataupun yang dipimpin menjalin suatu hubungan kerjsama yang saling mendukung untuk tercapainya tujuan organisasi atau instnasi.

DAFTAR PUSTAKA
Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004).
Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang : Bumi Aksara, 1994).
Dadang Sulaeman dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP Bandung, 1983).
I.Nyoman Bertha, Filsafat dan Teori Pendidikan, (Bandung : FIP IKIP Bandung, 1983).
M. Ngalim Purwanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Mutiara Sumber-Sumber Benih Kecerdasan, 1981).
Maman Suherman, Pengembangan Sarana Belajar, (Jakarta : Karunia, 1986).
Maman Ukas, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999).
Marsetio Donosepoetro, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir, (Surabaya : 1982).
Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996).
Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, (Bandung : Angkasa, 1983).
Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Konteporer, (Bandung : Alfabeta, 2005).
Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995.